Surga di Warung Kopi, Sidik Nugroho

image

Akhir minggu lalu, saya dan anak-anak harus menghabiskan waktu cukup lama di satu mal, sementara menunggu sang suami yang meeting dengan kliennya. Kalau sudah dapat “takdir” seperti ini, tak ada pilihan lain. Sudah jadi kebiasaan kami dalam situasi seperti ini untuk mampir ke toko buku yang ada di mal itu, memilih satu-dua buku, lalu setelahnya duduk manis di salah satu kafe untuk membacanya. Killing time, istilah kerennya. Enjoying me-time, kalau istilah kami.

Terus terang, sih, yang saya ambil hari itu bukan cuma satu buku, seperti yang dilakukan anak-anak. Sebagai orangtua rada egois, saya merasa punya “hak prerogatif” untuk beli buku lebih banyak. Hasilnya, tiga buku saya ambil dari rak. Salah satunya adalah buku ini.

Judulnya saja sudah cukup menarik hati saya, mengingat saya termasuk penggemar kopi. Membaca sekilas, ternyata novel ini memang lahir dari hobi sang penulis yang suka menghabiskan waktu di warung kopi.Tidak seperti di kafe, di mana kita lebih punya privasi untuk menikmati waktu sendirian, warung kopi adalah tempatnya untuk bergaul dan cari teman ngobrol. Sebagian dari kita mungkin bisa merasa lebih nyaman ngobrol dengan orang asing, karena mereka tidak menghakimi, komentarnya lebih netral, dan terkadang bisa memberi sudut pandang yang tidak terduga namun inspiratif.

Tapi, warung kopi yang dikunjungi oleh Iwan, tokoh utama dalam novel ini, bukanlah warung kopi biasa. Ini adalah warung kopi yang menguak kenangan lama, mempertemukannya dengan orang-orang yang pernah bermakna dalam hidupnya. Yang mengingatkan dia akan masa lalu, rasa cinta yang pernah ia miliki, nilai-nilai hidup yang pernah dipelajari. Ide besarnya kira-kira seperti itu.

Cara tutur yang sangat simpel dengan alur linear membuat novel ini mudah dicerna. Enggak perlu banyak mikir, tidak perlu pakai interpretasi. Buat saya sendiri, novel ini jadi menarik karena menampilkan sisi lain kehidupan yang bagi banyak orang menjadi misteri. Yaitu gambaran seperti apa kiranya ketika kita berada di antara hidup dan mati. Apakah ketika itu kita akan seperti berada di suatu tempat tanpa ujung dan hanya dikelilingi oleh kabut putih? Atau kita akan dibawa jalan-jalan ke sana ke mari, seperti Iwan dalam novel yang diilhami oleh dua novel dari Mitch Albom, salah satu pengarang favorit saya ini? Saya kira, kita masing-masing akan punya versinya sendiri. Entah di sebuah taman ataupun warung kopi, yang jelas semua akan membuat kita makin memahami hidup ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s